Awalnya saya mengira server lambat karena CPU tinggi. Namun, setelah dicek berulang kali, grafik CPU justru normal. Anehnya, akses SSH terasa berat dan beberapa service seperti Docker merespons lebih lambat dari biasanya.
Setelah ditelusuri lebih dalam, masalahnya bukan di CPU, melainkan di manajemen RAM dan swap. Dari situ, saya belajar bahwa swap yang tidak diatur dengan benar bisa membuat server terasa sangat lemot walaupun masih hidup.
Apa Itu Swap dan Kenapa Bisa Jadi Masalah?
Swap berfungsi sebagai memori cadangan ketika RAM hampir habis. Namun, ketika sistem terlalu sering menggunakan swap, performa langsung turun drastis.
Selain itu, Ubuntu biasanya mengatur swap dengan nilai default yang kurang cocok untuk server produksi. Akibatnya, sistem terlalu cepat memindahkan proses aktif ke disk.
Tanda Server Terkena Masalah Swap
Sebelum saya sadar, beberapa gejala ini muncul secara bertahap:
- SSH lambat walaupun server masih online
- Web terasa berat tanpa lonjakan CPU
- Docker container delay saat restart
- Load average naik tanpa sebab jelas
Dari sini, saya langsung fokus mengecek kondisi RAM dan swap.
Cek Penggunaan RAM dan Swap
Langkah awal selalu saya mulai dari perintah sederhana:
free -h
Dari output ini, saya bisa melihat apakah swap sudah mulai terpakai. Jika swap aktif terus-menerus, itu tanda optimasi perlu dilakukan.

Cek Nilai Swappiness Ubuntu
Swappiness menentukan seberapa agresif sistem menggunakan swap. Secara default, nilainya cukup tinggi.
Saya cek nilainya dengan perintah berikut:
cat /proc/sys/vm/swappiness

Pada server saya, nilainya berada di angka 60. Angka ini terlalu besar untuk server dengan layanan aktif.
Menurunkan Swappiness agar Server Lebih Responsif
Setelah mencoba beberapa nilai, saya menemukan angka yang paling stabil untuk server produksi.
Saya edit konfigurasi sysctl:
nano /etc/sysctl.conf
Lalu saya tambahkan baris berikut di bagian bawah:
vm.swappiness=10
Setelah itu, saya terapkan perubahan tanpa reboot:
sysctl -p

Membuat Swap File yang Lebih Sehat
Pada beberapa server, swap bawaan terasa kurang optimal. Karena itu, saya memilih membuat swap file sendiri agar lebih terkontrol.
Langkah pertama, saya nonaktifkan swap lama:
swapoff -a
Kemudian saya buat swap baru dengan ukuran yang lebih aman:
fallocate -l 2G /swapfile
chmod 600 /swapfile
mkswap /swapfile
swapon /swapfile
Setelah aktif, saya pastikan swap otomatis jalan saat boot:
echo '/swapfile none swap sw 0 0' >> /etc/fstab
Hasil Setelah Optimasi Swap
Perubahannya langsung terasa. SSH kembali responsif, service berjalan lebih stabil, dan server tidak lagi terasa berat saat RAM hampir penuh.
Selain itu, load average menjadi lebih masuk akal dan tidak naik tiba-tiba.
Kapan Swap Masih Dibutuhkan?
Walaupun swap sering dianggap musuh performa, swap tetap berguna sebagai pengaman. Namun, swap harus diperlakukan sebagai cadangan, bukan memori utama.
Baca Juga :
Dengan konfigurasi yang tepat, swap justru membantu server bertahan saat kondisi darurat.
Kesimpulan
Optimasi swap bukan soal menonaktifkan sepenuhnya, melainkan soal mengatur perilakunya. Dengan swappiness rendah dan swap file yang sehat, server bisa tetap stabil tanpa mengorbankan performa. Jika server kamu mulai terasa lambat tanpa sebab jelas, cek swap sebelum menyalahkan CPU atau jaringan.
