Dalam membangun topologi jaringan RT/RW Net, saya sering mendapat pertanyaan kenapa saya tetap menempatkan MikroTik CRS sebagai core jaringan, padahal RB4011 sudah memiliki port SFP+. Banyak orang menilai keputusan ini berlebihan jika hanya melihat spesifikasi perangkat.
Saya mengambil keputusan ini berdasarkan pengalaman langsung di lapangan, terutama ketika jaringan mulai berkembang dan jumlah client terus meningkat.

Gambaran Topologi Jaringan RT/RW Net yang Saya Gunakan
Topologi yang saya terapkan dimulai dari koneksi ISP yang masuk ke MikroTik CRS melalui port SFP. Setelah itu, CRS meneruskan trafik ke RB4011 yang berperan sebagai router utama. Dari RB4011, saya membagi jaringan ke server Ubuntu produksi dan ke jalur distribusi client.
Pada awal pembangunan, saya sempat mempertimbangkan untuk langsung memasukkan koneksi fiber ke RB4011. Namun, setelah mengevaluasi kebutuhan jangka panjang, saya memilih memisahkan peran perangkat sejak awal.
RB4011 Memiliki Port SFP+, Tetapi Saya Fokuskan untuk Routing
RB4011 menangani routing, firewall, queue, dan manajemen client secara bersamaan. Ketika semua fungsi tersebut berjalan, perangkat ini bekerja cukup berat, terutama saat trafik client meningkat.
Karena alasan itu, saya tidak menjadikan RB4011 sebagai terminasi backbone fiber. Saya membiarkan perangkat ini fokus mengelola jaringan tanpa terbebani trafik layer 2 dari ISP.
CRS Berperan Optimal sebagai Core dan Backbone
MikroTik CRS dirancang sebagai switch yang efisien untuk menangani trafik layer 2 dan koneksi fiber. Perangkat ini bekerja dengan beban CPU ringan sehingga mampu menjaga kestabilan jaringan dalam jangka panjang.
Dengan menempatkan CRS di depan, trafik dari ISP mengalir langsung tanpa mengganggu proses routing di RB4011.
Pengaruh Langsung terhadap Stabilitas Jaringan
Perbedaan performa mulai terasa ketika jumlah client bertambah. RB4011 tetap responsif karena tidak menangani trafik backbone, sedangkan CRS terus bekerja stabil sebagai core jaringan.
Kondisi ini membantu menjaga kualitas layanan, terutama saat jam sibuk ketika trafik client meningkat.
Kemudahan Maintenance dan Pengembangan
Dalam operasional RT/RW Net, saya rutin melakukan maintenance. Ketika RB4011 perlu reboot atau penyesuaian konfigurasi, CRS tetap menjaga koneksi backbone tetap aktif.
Selain itu, ketika saya menambahkan jalur ISP atau backbone baru, CRS memberi fleksibilitas tanpa mengganggu konfigurasi utama di RB4011.
Pengalaman Saat Jumlah Client Sudah Ratusan
Manfaat topologi jaringan RT/RW Net ini terasa jelas ketika jumlah client mencapai ratusan pengguna aktif. Jaringan tetap stabil karena setiap perangkat menjalankan peran masing-masing secara optimal.
Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa pemisahan fungsi core dan router memberikan dampak besar terhadap kestabilan jaringan.
Kesimpulan
Meskipun RB4011 memiliki port SFP+, penggunaan CRS sebagai core jaringan tetap memberi keuntungan nyata. Topologi jaringan RT/RW Net menjadi lebih stabil, mudah dikelola, dan siap berkembang.
Keputusan ini lahir dari pengalaman langsung di lapangan, bukan sekadar pertimbangan spesifikasi di atas kertas.
Baca Juga:
Informasi resmi perangkat dapat dilihat di situs MikroTik:
