Membangun home server untuk RT/RW Net bukan pekerjaan instan. Saya melewati proses panjang, mulai dari tahap perencanaan, pemilihan perangkat, hingga penyesuaian di lapangan. Namun, berkat pendekatan bertahap dan konsisten, sistem ini akhirnya mampu melayani sekitar 400–500 client aktif sampai hari ini.
Pada artikel ini, saya akan membagikan pengalaman pribadi secara lengkap. Selain itu, saya akan menjelaskan alur jaringan, perangkat yang digunakan, serta alasan teknis di balik setiap keputusan. Dengan begitu, Anda bisa menjadikannya referensi jika ingin membangun sistem serupa.
Awal Mula Membangun Infrastruktur RT/RW Net
Pada tahap awal, saya fokus pada satu hal utama, yaitu kestabilan. Karena targetnya bukan sekadar uji coba, saya langsung memilih jalur resmi. Oleh sebab itu, koneksi internet saya ambil dari ISP lokal yang sudah bermitra PKS secara resmi.
Selanjutnya, koneksi dari ISP tidak PTP menggunakan media wirelless. Sebaliknya, saya memilih jalur PTP fiber optic agar kualitas koneksi tetap terjaga. Keputusan ini terbukti tepat karena sejak awal jaringan sudah minim gangguan.
Koneksi ISP ke Core Router Menggunakan Fiber Optic
Koneksi dari ISP masuk ke perangkat core menggunakan fiber optic langsung ke MikroTik CRS112-8G-S. Kebetulan, perangkat ini memiliki empat port SFP, sehingga sangat fleksibel untuk kebutuhan backbone.

Pada sisi optik, saya menggunakan SFP BiDi LC 20KM. Jarak lokasi yang relatif dekat membuat spesifikasi ini lebih dari cukup. Selain itu, penggunaan BiDi juga membantu menghemat jalur fiber karena hanya memerlukan satu core.
Dari CRS112, saya tidak menerapkan routing rumit. Sebaliknya, semua interface saya bridge terlebih dahulu. Dengan cara ini, trafik bisa mengalir lebih sederhana dan mudah dipantau.
Distribusi ke MikroTik RB4011 sebagai Otak Jaringan
Setelah keluar dari CRS, jalur jaringan saya arahkan ke MikroTik RB4011. Sampai saat ini, perangkat ini menjadi pusat manajemen client dan penghubung ke server produksi.
Kenapa dari ISP tidak langsung masuk ke RB4011? Padahal ada port SFP+, jawabnya singkat bisa simak artikel dengan judul :

RB4011 saya pilih karena performanya stabil untuk beban ratusan client. Selain itu, konfigurasi queue, firewall, dan manajemen PPPoE bisa berjalan dengan lancar tanpa bottleneck.
Di tahap ini, saya mulai memisahkan peran perangkat. CRS berfungsi sebagai core dan bridge backbone, sedangkan RB4011 fokus pada manajemen jaringan. Dengan pembagian ini, troubleshooting jadi jauh lebih mudah.
Integrasi Server Ubuntu untuk Produksi
Dari RB4011, jaringan kemudian mengalir ke server Ubuntu yang saya gunakan untuk kebutuhan produksi. Server ini menangani berbagai layanan internal, mulai dari monitoring, aplikasi manajemen, hingga layanan berbasis web.
Saya sengaja memilih Ubuntu Server karena stabil, komunitasnya besar, dan dokumentasinya lengkap. Selain itu, hampir semua kebutuhan RT/RW Net bisa diakomodasi di lingkungan Linux.
Hingga saat ini, server tersebut tetap berjalan tanpa reinstall besar. Hal ini terjadi karena sejak awal saya menerapkan manajemen service berbasis Docker dan backup rutin.
Pembagian Port Menggunakan Switch Gigabit
Sebelum jaringan didistribusikan lebih luas, saya menambahkan switch 16 port TP-Link gigabit. Tujuannya sederhana, yaitu menghemat port pada RB4011 dan menjaga kerapian instalasi.

Dengan adanya switch ini, saya bisa mengelompokkan jalur server, jalur distribusi, dan jalur perangkat tambahan secara terpisah. Selain itu, manajemen kabel juga jauh lebih rapi.
Pada praktiknya, penggunaan switch tambahan sangat membantu ketika jaringan mulai berkembang. Penambahan perangkat baru tidak lagi mengganggu konfigurasi utama.
Distribusi ke Client Menggunakan OLT EPON
Untuk jalur distribusi ke client, saya menggunakan dua OLT EPON, yaitu VSOL dan HSGQ. Pemilihan EPON dilakukan karena efisiensi dan kemudahan pengelolaan pelanggan.

Dengan sistem ini, satu jalur fiber bisa melayani banyak client tanpa penurunan kualitas signifikan. Selain itu, monitoring ONT dan manajemen bandwidth bisa dilakukan dengan lebih terstruktur.

Pada tahap ini, perencanaan sangat berperan. Saya membagi area layanan berdasarkan kapasitas OLT agar tidak terjadi overload di satu titik.
Skema Alur Jaringan Secara Keseluruhan
Secara sederhana, alur jaringan yang saya gunakan adalah sebagai berikut: ISP masuk ke CRS melalui SFP, lalu diteruskan ke RB4011. Dari RB4011, trafik dibagi ke server Ubuntu dan switch distribusi. Selanjutnya, jalur menuju OLT EPON sebelum akhirnya sampai ke client.
Walaupun terlihat sederhana, skema ini sangat fleksibel. Saya bisa menambahkan perangkat baru tanpa harus mengubah struktur utama.
Pengalaman Mengelola Ratusan Client Aktif
Seiring waktu, jumlah client terus bertambah. Namun, karena pondasi jaringan sudah kuat, penambahan client tidak menimbulkan masalah berarti.
Saya menerapkan monitoring sejak awal, sehingga potensi gangguan bisa terdeteksi lebih cepat. Selain itu, manajemen bandwidth yang konsisten membuat kualitas layanan tetap stabil.
Ketika terjadi gangguan, saya bisa langsung melacak sumber masalah karena setiap perangkat memiliki peran jelas. Pendekatan ini sangat membantu dalam operasional harian.
Pelajaran Penting dari Pengalaman di Lapangan
Dari seluruh proses ini, saya belajar bahwa perencanaan jauh lebih penting daripada sekadar membeli perangkat mahal. Selain itu, pemisahan fungsi perangkat sangat berpengaruh pada kestabilan jangka panjang.
Saya juga menyadari bahwa dokumentasi dan backup tidak boleh diabaikan. Walaupun terlihat sepele, dua hal ini sering menjadi penyelamat ketika terjadi masalah tak terduga.
Penutup
Membangun home server untuk RT/RW Net memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, dengan pendekatan bertahap dan fokus pada kestabilan, sistem yang handal bisa tercapai.
Pengalaman ini membuktikan bahwa jaringan skala menengah bisa berjalan optimal tanpa infrastruktur berlebihan. Selama perencanaan matang dan eksekusi konsisten, layanan kepada ratusan client tetap bisa terjaga dengan baik.
